Perjalanan Menarik Mendaki Gunung Tujuh Kerinci
Raja-piknik.com - Sebuah perjalanan meski ke tempat yang sama, terkadang memberikan kesan dan cerita yang berbeda. Begitu juga dengan catatan seru perjalanan nan tak terlupakan melakukan pendakian kaldera tertinggi di Asia Tenggara. Gunung Tujuh, sebuah atraksi alam nan memukau yang terletak di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Meski telah mendaki beberapa kali, perjalanan kali ini sungguh berkesan.
Rencana perjalanan telah kami susun jauh-jauh hari terkait liburan di Kerinci. Beberapa objek wisata telah kami masukkan ke dalam list perjalanan kami diantaranya Bukit Khayangan, Perkebunan Teh Kayu Aro, Swarga Lodge, Danau Kaco, dan Danau Gunung Tujuh tentunya.
Keberangkatan kami terbilang cukup unik, karena kami memulai dari tempat terpisah. Mualim, Alvin, dan Riski memulai perjalanan dari Kota Jambi. Sedangkan aku memulai perjalanan dari Muara Bulian yang berjarak sekitar 60 Km dari Kota Jambi.
Aldi, Reza, dan Maliki menunggu kami di Sarolangun yang memang perjalanan kami melewati tempat tinggal mereka.
Lain lagi dengan Shodiq dan Hafidz yang sehari sebelumnya dari Kota Jambi menginap di Sarolangun. Dari cara kami berangkat, terlihat begitu kompak bukan!.
Sebelum menceritakan tentang indahnya perjalanan kami, sahabat perlu tahu sedikit mengenai Danau Gunung Tujuh.
Danau ini merupakan danau yang lokasinya berada di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Lokasi pintu masuknya merupakan bagian dari wilayah administratif Desa Pelompek, Kecamatan Kayu Aro. Sesuai dengan namanya danau nan eksotis ini berada di kawasan Gunung Tujuh, jajaran dari tujuh gunung yang berada tepat di belakang Gunung Kerinci.
Tujuh gunung yang mengelilingi Danau ini yaitu Gunung Hulu Tebo (2.525 mdpl), Gunung Hulu Sangir (2.330 mdpl), Gunung Madura Besi (2.418 mdpl), Gunung Lumut yang ditumbuhi berbagai jenis Lumut (2.350 mdpl), Gunung Selasih (2.230 mdpl), Gunung Jar Panggang (2.469 mdpl), dan Gunung Tujuh itu sendiri (2.735 mdpl).
Kabupaten Kerinci memiliki jarak sekitar 400 kilometer dari Kota Jambi yang merupakan ibukota Provinsi Jambi. Kalau jalan dengan kecepatan standar tanpa berhenti, kemungkinan Anda akan menghabiskan waktu sekitar 8 jam lebih.
Tapi tenang, jika Anda tak mau berlelah-lelah, maka Anda bisa berangkat menggunakan jalur penerbangan dengan waktu perjalanan hanya ada dihari-hari tertentu.
Perjalanan kami menuju Kerinci sebenarnya tak ada yang terlalu spesial. Sebetulnya diantara mereka, aku belum terlalu akrab. Boleh dibilang, perjalanan ini adalah yang pertama bersama mereka. Kecuali Alvin dan Aldi yang kali kedua kami menjelajah alam bersama.
Dijalan tak ada hambatan begitu berarti. Sekitar, pukul 16.00 sore kami sampai ke Kota Sungai Penuh. Karena google maps kurang akurat, salah satu dari kami terpisah dari rombongan dan nyasar di Kota Sungai Penuh. Mungkin ini bagian paling seru.
Tempat Menginap
Sebenarnya banyak pilihan Anda menginap di Sungai Penuh. Di sini terdapat beberapa homestay dan hotel dari harga terjangkau sampai yang berkelas. Kalau boleh merekomendasikan, lebih baik menginap di Kayu Aro, karena hawa sejuk dan pemandangan menakjubkan membuat perjalanan wisata Anda tak terlupakan.
Kalau kami menginapnya paket hemat, di rumah salah satu kenalan kami. Tentunya gratis dan paket hemat.
Perjalanan Ke Gunung Tujuh
Bagian ini adalah kisah paling unik dan tentunya tak terlupakan. Pertama soal waktu, kami terlalu berleha-leha sehingga baru memulai perjalanan sekitar pukul 08.00. Rute pertama adalah menyaksikan keindahan Bukit Khayangan.
Katanya, Bukit Khayangan merupakan salah satu Dataran Tinggi Terindah di Indonesia. Nyatanya bagi kami tidak. Bukan karena Bukit Khayangan yang tak indah, tapi kami yang kurang beruntung hari itu.
Bukit Khayangan tertutup kabut sehingga indahnya bukit, pegunungan dan danau tak terlihat dari sini. Sepertinya singgah hanya disuruh bayar tiket sebesar Rp5.000, tanpa bisa menikmati pemandangan yang ada.
Kami pun bergegas menuju perkebunan Teh Kayu Aro yang waktu tempuhnya sekitar satu jam lebih dari Sungai Penuh. Sampai di sana kami foto-foto lalu melanjutkan perjalanan menuju swarga.
Perjalanan ke Swarga Lodge diwarnai rintik hujan, namun kami tetap nekat. Dengan membayar tiket sebesar Rp10.000, -kami menikmati indahnya pemandangan perkebunan teh dari ketinggian, kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Danau Gunung Tujuh.
Sekitar jam 12.00 siang kami baru tiba digerbang untuk membeli karcis, kalau tidak salah perorang dikenakan biaya masuk Rp10.000,-. Kemudian parkir motor Rp10.000 karena tidak menginap. Jika menginap bisa lebih mahal lagi, maklum Kerinci pernah menyandang predikat parkir paling mahal di dunia.
Cuaca waktu itu rintik dan kabut begitu pekat. Hari itu adalah gerhana matahari, sehingga kalau dari terik matahari sebenarnya sangat bersahabat. Tapi persiapan kami yang kurang bersahabat.
Dandanan kami bukanlah seperti orang mau mendaki melainkan menonton konser. Bekalpun seadanya. Padahal, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, pendakian Danau Gunung Tujuh terasa lumayan menguras energi.


Nekat, kamipun melakukan pendakian sekitar pukul 12.00. Menghemat waktu, kami pun menyewa pick up untuk mengantar kami menuju gerbang Rimba dengan biaya Rp50.000.
Perjalanan menuju gerbang rimba kai harus melewati beberapa anak tangga, sebenarnya tidak terlalu berat. Namun, karena persiapan fisik tidak terlalu matang, baru beberapa menit berjalan, nafas sudah kempang kempis.
Bahkan, beberapa sudah ada yang menunjukkan tanda-tanda menyerah. Karena perbedaan energi inilah yang membuat kami tak barengan mendaki. Inilah mengapa, karakter seseorang bisa dinilai saat mendaki gunung. Tahukan mana yang setia dan yang tidak. Tapi aku sendiri termasuk kebarisan yang tak sampai menuju puncak.


Oh ya, untuk mendaki Gunung Tujuh ada tiang-tiang yang ditulis angka-angka berjumlah sekitar 42. Itu dimulai dari pintu masuk hingga puncak titik 38 kalau tidak salah, sebelum turun menuruni jalanan yang licin dan ekstrem.
Sambil makan kacang, kamipun menunggu beberapa teman yang belum sampai. Karena tak kunjung sampai, kamipun melanjutkan menuruni tangga menuju danau.
Setelah sampai kami langsung makan siang dan shalat jamak. Kemudian berenang sembari menunggu yang lain belum sampai.
Sekitar pukul 16.30 barulah Mualim, Riski, Reza, Shodiq dan Hafidz sampai. Di sini tak jelas pemandangan yang kami lihat. Hari itu kabut benar-benar tebal.
Mungkin karena lelahnya ke atas dan ingin membayar kelelahan itu, kami terlalu asyik di atas hingga lupa bahwa waktu sudah hampir malam.
Sekitar pukul 18.00 barulah kami turun. Ternyata dalam perjalanan turun, kaki salah satu dari kami kembali kram. Nah, pada saat turun inilah ukhuwah kami benar-benar diuji.
Saat turun, tak ada balapan lagi. Yang ada bahkan kami memapah teman kami yang kram agar sampai ke bawah. Soalnya takut dimarahin mak nya.
Bermodalkan senter HP, bahasa kerennya flashlight kami turun. Tak terhitung berapa kali aku jungkir balik. Buat kalian yang mau mendaki, disarankan jangan pakai sepatu running. Soalnya nanti jungkir balik.
Perjalanan turun ini benar-benar berkesan, rasa dihantui ketakutan begitu terasa. Ini merupakan pengalaman pertama, turun di malam hari tanpa penerangan. Apalagi baterai udah drop.
Dalam perjalanan sangat terasa rasa senasib sepenanggungan, tapi uniknya tak ada yang mau di posisi belakang. Kadang rebutan mau ke depan atau tengah hingga terjatuh. Karena masih ada yang merangkul teman yang kram sambil bergantian aku dan Aldi di posisi belakang.
Jujur, waktu itu agak ngeri kalau-kalau nanti ada binatang buas menerkam. Dan alhamdulillah ternyata kami sampai dengan selamat ke bawah. Sebuah hal yang sangat menyenangkan dan tak terlupakan, meskipun jam sudah menunjukkan pukul 21 lebih waktu itu.
Di bawahpun kami mengucap syukur dan beberapa dari kami ditugaskan mengambil motor karena yang lain udah tepar. Cukup jauh sih jaraknya, sambil bercanda nakut-nakutin akhirnya cepat juga sampai pso masuk.
Kami mengambil motor, menjemput teman-teman dan balik lagi ke pos untuk mengambil KTP dengan mengumpulkan sampah dari atas. Di tengah hujan dan cuaca begitu dingin, kami memacu kendaraan menuju penginapan. Benar-benar pengalaman tak terlupakan.





Posting Komentar untuk "Perjalanan Menarik Mendaki Gunung Tujuh Kerinci"
Posting Komentar